Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
09.28
SETIAP
Senin Harsem memuat konsultasi keluarga yang diasuh Hj Dra Jauharotul
Farida, M.Ag, Ketua Tim Konsultasi Keluarga Maslahah Lembaga
Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Jateng.
Pertanyaan bisa dikirim ke Redaksi Jl KH. Wahid Hasyim 125-127 Kranggan Semarang, fax (024) 3516511 atau e-mail: harian.semarang@yahoo.com
Pertanyaan:
Ibu Ingin Kami Bercerai
Written By Harian Semarang on Rabu, 16 November 2011 | 09.28
SETIAP
Senin Harsem memuat konsultasi keluarga yang diasuh Hj Dra Jauharotul
Farida, M.Ag, Ketua Tim Konsultasi Keluarga Maslahah Lembaga
Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Jateng.Pertanyaan bisa dikirim ke Redaksi Jl KH. Wahid Hasyim 125-127 Kranggan Semarang, fax (024) 3516511 atau e-mail: harian.semarang@yahoo.com
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Nama saya Rini, seorang ibu muda (30), telah menjalani perkawinan empat tahun dan dikaruniai seorang putera. Saat ini tengah menghadapi situasi sulit. Akhir-akhir ini ibu mengaku tidak cocok dengan suami tanpa alasan jelas. Beliau meminta saya menceraikannya. Padahal saya dan suami saling cinta dan merasa cocok. Ibu mengatakan kalau tidak mau bercerai, saya tidak dianggap sebagi anak. Berat rasanya untuk memilih salah satunya. Saya tidak ingin menjadi anak durhaka, di sisi lain ingin keluarga tetap utuh. Apalagi kami sudah dikarunia anak yang kini berusia 3. Hati merasa tak tenang karena ibu sering kali menanyakan sejauh mana proses perceraian sudah dilakukan. Bahkan seringkali beliau menyindir-nyindir suami. Saat ini kami memang masih numpang di rumah ibu bersama dua adik. Adapun ayah telah wafat. Seorang kakak saya sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota. Bagaimana ya Bu jalan keluarnya?
Wassalamu’alaikum Wr, Wb.
Nama saya Rini, seorang ibu muda (30), telah menjalani perkawinan empat tahun dan dikaruniai seorang putera. Saat ini tengah menghadapi situasi sulit. Akhir-akhir ini ibu mengaku tidak cocok dengan suami tanpa alasan jelas. Beliau meminta saya menceraikannya. Padahal saya dan suami saling cinta dan merasa cocok. Ibu mengatakan kalau tidak mau bercerai, saya tidak dianggap sebagi anak. Berat rasanya untuk memilih salah satunya. Saya tidak ingin menjadi anak durhaka, di sisi lain ingin keluarga tetap utuh. Apalagi kami sudah dikarunia anak yang kini berusia 3. Hati merasa tak tenang karena ibu sering kali menanyakan sejauh mana proses perceraian sudah dilakukan. Bahkan seringkali beliau menyindir-nyindir suami. Saat ini kami memang masih numpang di rumah ibu bersama dua adik. Adapun ayah telah wafat. Seorang kakak saya sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota. Bagaimana ya Bu jalan keluarnya?
Wassalamu’alaikum Wr, Wb.
Rini
Semarang
Semarang
Jawaban:
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Mbak Rini yang saya sayangi.
Kehidupan rumah tangga memang penuh dinamika dan tantangan. Hampir tidak ada rumah tangga yang sepi dari problem kehidupan. Apa yang Anda alami saat ini merupakan persoalan yang saya yakin bisa diselesaikan. Coba bicarakan baik-baik dengan ibu, apa alasan dia menghendaki Anda bercerai dari suami. Mungkin hal itu merupakan ungkapan kekesalan atas harapan-harapan yang belum terwujud, yang kemudian diekspresikan dalam bentuk permintaan untuk bercerai.
Menurut saya cara penyelesaiannya bukan dengan bercerai, tetapi mencoba memenuhi harapan beliau. Jika beliau berharap Anda dan suami mandiri, cobalah sedikit demi sedikit dipenuhi harapannya. Insya Allah jika harapan sedikit terpenuhi, ungkapan itu akan hilang dengan sendirinya. Karena pada dasarnya tidak ada orang tua yang menginginkan rumah tangga anaknya kandas di tengah jalan.
Mengingat saat ini Anda masih numpang di rumah beliau bersama dua adik, saatnya mencoba tinggal sendiri di rumah lain. Kalau belum mampu membeli atau kredit, untuk sementara bisa dengan menyewa atau kos. Rumah sederhana tidak masalah, yang penting berlatih hidup mandiri. Berpisah dengan keluarga juga ada manfaatnya, di antaranya menumbuhkan rasa rindu karena jarang bertemu. Sekaligus menyadarkan betapa kalian berdua memiliki ikatan cinta yang kuat.
Untuk mencegah renggangnya hubungan rumah tangga, selalu bicarakan setiap persoalan kepada suami agar tidak terjadi kesalahpahaman. Sampaikan secara baik-baik prilaku atau sikap suami yang dipandang membuat hati ibu kurang berkenan. Kemudian cari solusinya bersama-sama.
Yakinlah ibu dan suami akan memahami dan mendukung rumah tangga Anda menjadi keluarga bahagia. Mohonlah kekuatan pada Allah agar Anda dapat menyelesaikan masalah ini tanpa harus memilih ibu atau suami. Dengan rahmat-Nya, insya Allah Anda akan mendapatkan keduanya. Percayalah semua usaha pasti ada hasilnya.
Wallahul Muwafiq ila Aqwamit Thariq
Wassalamu’alaikum Wr, Wb.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Mbak Rini yang saya sayangi.
Kehidupan rumah tangga memang penuh dinamika dan tantangan. Hampir tidak ada rumah tangga yang sepi dari problem kehidupan. Apa yang Anda alami saat ini merupakan persoalan yang saya yakin bisa diselesaikan. Coba bicarakan baik-baik dengan ibu, apa alasan dia menghendaki Anda bercerai dari suami. Mungkin hal itu merupakan ungkapan kekesalan atas harapan-harapan yang belum terwujud, yang kemudian diekspresikan dalam bentuk permintaan untuk bercerai.
Menurut saya cara penyelesaiannya bukan dengan bercerai, tetapi mencoba memenuhi harapan beliau. Jika beliau berharap Anda dan suami mandiri, cobalah sedikit demi sedikit dipenuhi harapannya. Insya Allah jika harapan sedikit terpenuhi, ungkapan itu akan hilang dengan sendirinya. Karena pada dasarnya tidak ada orang tua yang menginginkan rumah tangga anaknya kandas di tengah jalan.
Mengingat saat ini Anda masih numpang di rumah beliau bersama dua adik, saatnya mencoba tinggal sendiri di rumah lain. Kalau belum mampu membeli atau kredit, untuk sementara bisa dengan menyewa atau kos. Rumah sederhana tidak masalah, yang penting berlatih hidup mandiri. Berpisah dengan keluarga juga ada manfaatnya, di antaranya menumbuhkan rasa rindu karena jarang bertemu. Sekaligus menyadarkan betapa kalian berdua memiliki ikatan cinta yang kuat.
Untuk mencegah renggangnya hubungan rumah tangga, selalu bicarakan setiap persoalan kepada suami agar tidak terjadi kesalahpahaman. Sampaikan secara baik-baik prilaku atau sikap suami yang dipandang membuat hati ibu kurang berkenan. Kemudian cari solusinya bersama-sama.
Yakinlah ibu dan suami akan memahami dan mendukung rumah tangga Anda menjadi keluarga bahagia. Mohonlah kekuatan pada Allah agar Anda dapat menyelesaikan masalah ini tanpa harus memilih ibu atau suami. Dengan rahmat-Nya, insya Allah Anda akan mendapatkan keduanya. Percayalah semua usaha pasti ada hasilnya.
Wallahul Muwafiq ila Aqwamit Thariq
Wassalamu’alaikum Wr, Wb.
Label:
Keluarga,
Konsultasi
09.26
SETIAP
Senin Harsem memuat konsultasi keluarga yang diasuh Hj Dra Jauharotul
Farida, M.Ag, Ketua Tim Konsultasi Keluarga Maslahah Lembaga
Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Jateng. Pertanyaan bisa
dikirim ke Redaksi Jl KH. Wahid Hasyim 125-127 Kranggan Semarang,
e-mail: harian.semarang@yahoo.com atau fax (024) 3516511.
Pertanyaan:
IBU pengasuh yang terhormat, perkenankan saya menyampaikan isi hati melalui rubrik ini. Saya seorang perempuan berusia 29, hampir menyelesaikan pendidikan S2.
Akhir-akhir ini banyak saudara maupun kawan yang berusaha mencarikan jodoh dengan alasan saya sudah cukup umur. Menurut mereka, jika sudah lewat masanya seorang wanita tidak menarik di mata lelaki.
Saya menyadari alasan mereka. Memang kebanyakan orang memandang pernikahan hanya masalah badan semata. Tetapi menurut saya tidak demikian. Menikah bukan karena diburu umur, juga bukan sekedar ketertarikan. Tetapi berkait dengan kecocokan dalam hal pikiran dan sikap hidup.
Selama ini saya merasa belum menemui laki-laki yang memiliki kecocokan dalam pikiran dan sikap. Karena itulah saya bertahan”menjomblo” meski menanggung resiko dibicarakan orang. Saya juga bukanlah orang yang anti-menikah. Apa keyakinan saya itu sesuatu yang wajar? Bagaimana menyikapi desakan teman dan saudara?
Fitri
Kabupaten Kudus
Bosan Disuruh Nikah
SETIAP
Senin Harsem memuat konsultasi keluarga yang diasuh Hj Dra Jauharotul
Farida, M.Ag, Ketua Tim Konsultasi Keluarga Maslahah Lembaga
Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Jateng. Pertanyaan bisa
dikirim ke Redaksi Jl KH. Wahid Hasyim 125-127 Kranggan Semarang,
e-mail: harian.semarang@yahoo.com atau fax (024) 3516511.Pertanyaan:
IBU pengasuh yang terhormat, perkenankan saya menyampaikan isi hati melalui rubrik ini. Saya seorang perempuan berusia 29, hampir menyelesaikan pendidikan S2.
Akhir-akhir ini banyak saudara maupun kawan yang berusaha mencarikan jodoh dengan alasan saya sudah cukup umur. Menurut mereka, jika sudah lewat masanya seorang wanita tidak menarik di mata lelaki.
Saya menyadari alasan mereka. Memang kebanyakan orang memandang pernikahan hanya masalah badan semata. Tetapi menurut saya tidak demikian. Menikah bukan karena diburu umur, juga bukan sekedar ketertarikan. Tetapi berkait dengan kecocokan dalam hal pikiran dan sikap hidup.
Selama ini saya merasa belum menemui laki-laki yang memiliki kecocokan dalam pikiran dan sikap. Karena itulah saya bertahan”menjomblo” meski menanggung resiko dibicarakan orang. Saya juga bukanlah orang yang anti-menikah. Apa keyakinan saya itu sesuatu yang wajar? Bagaimana menyikapi desakan teman dan saudara?
Fitri
Kabupaten Kudus
Jawaban:
Sdri Fitri yang baik, Jarang sekali seorang perempuan memiliki pandangan tentang bagaimana sebuah perkawinan harus dijalani. Anda sudah memiliki wawasan bahwa sebuah perkawinan harus dibangun oleh kecocokan dalam pikiran, sikap, dan cara pandang terhadap suatu persoalan. Hal ini tidak banyak dimiliki oleh orang lain baik laki-laki maupun perempuan. Tetapi terkadang perkawinan yang sudah dilandasi rasa mawaddah dan rahmah akan bisa mempertemukan cara pandang meski pada awalnya pikiran dan sikap keduanya berseberangan.
Menurut saya, pernikahan bisa menjadi media penyatuan dari dua perbedaan. Bukan untuk dipertentangkan atau diadu satu dengan yang lain. Tetapi justru akan saling melengkapi dan menyempurnakan atas kekurangan satu dengan lainnya. Oleh karena itu, selama perbedaan tidak masuk ranah prinsip, menurut saya bisa diabaikan. Namun jika perbedaan bersifat prinsip, usahakan dicarikan titik temunya.
Tidak ada calon suami atau calon istri yang sempurna, yang memenuhi kriteria 1 sampai 10 dari syarat yang kita inginkan. Cukup ada lima atau enam syarat yang bisa dipenuhi, bisa dianggap cukup. Diri kita sendiri pun bukan figur yang sempurna seperti diharapkan pasangan kita. Oleh karena itu seharusnya kita bisa memahami kelebihan dan kekurangan pada diri sendiri maupun pasangan.
Saya kira tidak ada lagi alasan untuk menunda pernikahan. Jika sudah menemukan yang terbaik, segera melangkah ke jenjang lebih serius. Insya Allah dengan menikah hidup Anda akan lebih berkah, dan semakin banyak kebaikan bisa diraih. Selain itu kebahagian dan kemaslahan juga semakin bisa dirasakan.
Doa kami menyertai, semoga Anda bisa mendapatkan jodoh sesuai kriteria yang Anda harapkan secara maksimal. Desakan teman dan saudara semoga menjadi bagian dari doa mereka agar Anda semakin bahagia.
Sdri Fitri yang baik, Jarang sekali seorang perempuan memiliki pandangan tentang bagaimana sebuah perkawinan harus dijalani. Anda sudah memiliki wawasan bahwa sebuah perkawinan harus dibangun oleh kecocokan dalam pikiran, sikap, dan cara pandang terhadap suatu persoalan. Hal ini tidak banyak dimiliki oleh orang lain baik laki-laki maupun perempuan. Tetapi terkadang perkawinan yang sudah dilandasi rasa mawaddah dan rahmah akan bisa mempertemukan cara pandang meski pada awalnya pikiran dan sikap keduanya berseberangan.
Menurut saya, pernikahan bisa menjadi media penyatuan dari dua perbedaan. Bukan untuk dipertentangkan atau diadu satu dengan yang lain. Tetapi justru akan saling melengkapi dan menyempurnakan atas kekurangan satu dengan lainnya. Oleh karena itu, selama perbedaan tidak masuk ranah prinsip, menurut saya bisa diabaikan. Namun jika perbedaan bersifat prinsip, usahakan dicarikan titik temunya.
Tidak ada calon suami atau calon istri yang sempurna, yang memenuhi kriteria 1 sampai 10 dari syarat yang kita inginkan. Cukup ada lima atau enam syarat yang bisa dipenuhi, bisa dianggap cukup. Diri kita sendiri pun bukan figur yang sempurna seperti diharapkan pasangan kita. Oleh karena itu seharusnya kita bisa memahami kelebihan dan kekurangan pada diri sendiri maupun pasangan.
Saya kira tidak ada lagi alasan untuk menunda pernikahan. Jika sudah menemukan yang terbaik, segera melangkah ke jenjang lebih serius. Insya Allah dengan menikah hidup Anda akan lebih berkah, dan semakin banyak kebaikan bisa diraih. Selain itu kebahagian dan kemaslahan juga semakin bisa dirasakan.
Doa kami menyertai, semoga Anda bisa mendapatkan jodoh sesuai kriteria yang Anda harapkan secara maksimal. Desakan teman dan saudara semoga menjadi bagian dari doa mereka agar Anda semakin bahagia.
Label:
Keluarga,
Konsultasi
09.21
SETIAP
Senin Harsem memuat konsultasi keluarga yang diasuh Hj Dra Jauharotul
Farida, M.Ag, Ketua Tim Konsultasi Keluarga Maslahah Lembaga
Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Jateng. Pertanyaan bisa
dikirim ke Redaksi Jl KH. Wahid Hasyim 125-127 Kranggan Semarang,
e-mail: harian.semarang@yahoo.com atau fax (024) 3516511.
Pertanyaan:
MELALUI rubrik ini saya ingin diberi pertimbangan terkait kondisi yang tengah dialami. Saya seorang perempuan, menikah empat tahun lalu, setelah berpacaran enam bulan.
Pernikahan kami berkat jasa seorang teman yang menjadi “Mak Comblang”. Tetapi sebenarnya pernikahan kami tak direstui keluarga suami. Sampai kini saya belum berani menemui mertua. Tetapi keluarga dekatnya seperti paman atau sepupunya sudah sering berkunjung.
Saya tidak tahu sampai kapan berada dalam kondisi seperti ini. Ingin rasanya bisa diterima mertua sekaligus mengharap restu dan doa. Apalagi empat tahun menikah kami belum mendapatkan momongan.
Apakah belum hadirnya anak akibat tidak direstuinya pernikahan kami? Saya juga khawatir jika rumah tangga kandas di tengah jalan. Was-was suatu saat suami minta cerai dengan alasan tidak mau durhaka kepada orang tua. Atau memang kami harus mengakhiri pernikahan ini?
Saya selalu merasa gundah. Apa yang harus dilakukan?
Gundah Belum Punya Momongan
SETIAP
Senin Harsem memuat konsultasi keluarga yang diasuh Hj Dra Jauharotul
Farida, M.Ag, Ketua Tim Konsultasi Keluarga Maslahah Lembaga
Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Jateng. Pertanyaan bisa
dikirim ke Redaksi Jl KH. Wahid Hasyim 125-127 Kranggan Semarang,
e-mail: harian.semarang@yahoo.com atau fax (024) 3516511.Pertanyaan:
MELALUI rubrik ini saya ingin diberi pertimbangan terkait kondisi yang tengah dialami. Saya seorang perempuan, menikah empat tahun lalu, setelah berpacaran enam bulan.
Pernikahan kami berkat jasa seorang teman yang menjadi “Mak Comblang”. Tetapi sebenarnya pernikahan kami tak direstui keluarga suami. Sampai kini saya belum berani menemui mertua. Tetapi keluarga dekatnya seperti paman atau sepupunya sudah sering berkunjung.
Saya tidak tahu sampai kapan berada dalam kondisi seperti ini. Ingin rasanya bisa diterima mertua sekaligus mengharap restu dan doa. Apalagi empat tahun menikah kami belum mendapatkan momongan.
Apakah belum hadirnya anak akibat tidak direstuinya pernikahan kami? Saya juga khawatir jika rumah tangga kandas di tengah jalan. Was-was suatu saat suami minta cerai dengan alasan tidak mau durhaka kepada orang tua. Atau memang kami harus mengakhiri pernikahan ini?
Saya selalu merasa gundah. Apa yang harus dilakukan?
Haryanti Ungaran
Jawaban:
Saudari Haryanti yang baik.
Doa dan restu orang tua sangat penting dalam membangun rumahtangga. Bukan saja restu mereka membuat kita nyaman dan damai. Tapi lebih penting adalah doa orang tua merupakan kunci ridlo Allah. Karena itu Anda harus berusaha mendapat restunya.
Tapi tidak perlu berkecil hati, karena masih banyak peluang dan cara untuk bisa memperoleh doa restunya.
Sebagai orang tua yang telah melahirkan, mengasuh, mendidik, dan membesarkan suami, mungkin ada ketersinggungan atau ego pada diri mereka. Anda bisa coba mencari tahu apa sebenarnya alasan penolakan atas pernikahan Anda. Cobalah untuk mengunjunginya dan meminta maaf atas kekhilafan Anda dan suami yang kurang menghargai dan tidak mengikuti nasihatnya. Bagaimanapun juga, sebagai anak kita harus pandai menghargai dan menghormati. Coba lakukan silaturrahim meski mungkin awalnya merasa takut.
Mungkin bisa dimulai dengan mengirim benda atau makanan yang merupakan kesukaannnya. Bangunlah image bahwa mertua Anda adalah orang yang sayang pada Anda dan sebaliknya Anda menantu yang sayang pada mereka.
Coba pula minta suami Anda untuk membangkitkan kenangan indah semasa kecil bersama orang tua. Salah satu cara, dengan membingkai foto masa kecilnya bersama orang tua dan mengirimkannya. Dengan upaya, insya Allah akan tumbuh tumbuh kasih sayang di hati orangtua. Saya yakin tak ada orang tua yang tidak menginginkan anaknya bahagia. Jika pilihan suami untuk menikahi Anda adalah bagian dari kebahagiaan anaknya, maka yakin bahwa doa dan restu akan jatuh juga pada pernikahan Anda. Saya kira yang penting adalah bagaimana Anda dan suami bisa mengambil hati mereka.
Jika ini sudah bisa dilakukan Anda tidak perlu lagi merasa was-was. Bahkan mungkin Anda bisa menjadi menantu kesayangan mereka. Amin.
Semoga upaya Anda dimudahkan Allah dan kehadiran momongan menjadi kenyataan.
Saudari Haryanti yang baik.
Doa dan restu orang tua sangat penting dalam membangun rumahtangga. Bukan saja restu mereka membuat kita nyaman dan damai. Tapi lebih penting adalah doa orang tua merupakan kunci ridlo Allah. Karena itu Anda harus berusaha mendapat restunya.
Tapi tidak perlu berkecil hati, karena masih banyak peluang dan cara untuk bisa memperoleh doa restunya.
Sebagai orang tua yang telah melahirkan, mengasuh, mendidik, dan membesarkan suami, mungkin ada ketersinggungan atau ego pada diri mereka. Anda bisa coba mencari tahu apa sebenarnya alasan penolakan atas pernikahan Anda. Cobalah untuk mengunjunginya dan meminta maaf atas kekhilafan Anda dan suami yang kurang menghargai dan tidak mengikuti nasihatnya. Bagaimanapun juga, sebagai anak kita harus pandai menghargai dan menghormati. Coba lakukan silaturrahim meski mungkin awalnya merasa takut.
Mungkin bisa dimulai dengan mengirim benda atau makanan yang merupakan kesukaannnya. Bangunlah image bahwa mertua Anda adalah orang yang sayang pada Anda dan sebaliknya Anda menantu yang sayang pada mereka.
Coba pula minta suami Anda untuk membangkitkan kenangan indah semasa kecil bersama orang tua. Salah satu cara, dengan membingkai foto masa kecilnya bersama orang tua dan mengirimkannya. Dengan upaya, insya Allah akan tumbuh tumbuh kasih sayang di hati orangtua. Saya yakin tak ada orang tua yang tidak menginginkan anaknya bahagia. Jika pilihan suami untuk menikahi Anda adalah bagian dari kebahagiaan anaknya, maka yakin bahwa doa dan restu akan jatuh juga pada pernikahan Anda. Saya kira yang penting adalah bagaimana Anda dan suami bisa mengambil hati mereka.
Jika ini sudah bisa dilakukan Anda tidak perlu lagi merasa was-was. Bahkan mungkin Anda bisa menjadi menantu kesayangan mereka. Amin.
Semoga upaya Anda dimudahkan Allah dan kehadiran momongan menjadi kenyataan.
Label:
Keluarga,
Konsultasi
09.13
Pertanyaan
SAYA bersaudara tiga orang. Usia saya 32 dan sudah berkeluarga, dengan dua orang anak. Adik saya laki-laki usia 28, yang saat ini sudah bekerja dan siap menikah tahun ini. Sedangkan yang bungsu saat ini berusia 25.
Sepuluh tahun lalu, ibu saya meninggal dunia. Dua tahun kemudian ayah menikah lagi dengan seorang perempuan yang juga sudah memunyai seorang anak perempuan usia 23, yang saat ini tinggal dengan suaminya di kota yang sama. Dua tahun lalu, ayah saya menyusul ibu, dipanggil Yang Mahakuasa.
Saat ini kami, bertiga dengan adik dan istri serta anak saya tinggal bersama dengan ibu tiri saya dalam satu rumah. Sehingga praktis segala kebutuhan ibu tiri saya, kami yang harus menanggungnya. Padahal penghasilan saya tidaklah banyak. Dalam pikiran saya dan adik-adik, akan lebih baik jika ibu tiri mau tinggal dengan anaknya sendiri. Karena rumah yang kami tinggali sebenarnya juga sudah atas nama saya dan dua adik kandung saya. Sementara ibu tiri sudah mendapatkan penghasilan dari uang pensiun ayah saya. Terlebih, sebentar lagi adik saya juga akan menikah, sehingga praktis kami memerlukan tempat tinggal adik dan istrinya.
Bagaimana ya, cara menyampaikan agar ibu tiri saya tidak merasa terusir, tapi bisa tahu diri dengan situasi di rumah kami yang memang tidak besar?
Jawaban:
ASSALAMUALAIKUM Wr Wb. Bapak Rony yang saya hormati, saya kira apa yang Bapak sampaikan tidaklah merupakan masalah yang besar dan rumit. Seandainya pun merupakan masalah, saya kira tidak ada masalah yang tidak dapat dicarikan jalan penyelesaiannya.
Saya kira Bapak perlu memertimbangkan ulang dari sisi baik dan buruknya, maslahah dan madlaratnya. Kalau seandainya ibu tetap tinggal bersama, apakah akan mengganggu privasi atau lainnya? Atau jika ibu harus tidak tinggal bersama di rumah Bapak, akan tinggal di manakah selanjutnya? Kalau tinggal dengan anak kandungnya, apakah rumahnya memungkinkan untuk menjadi tempat tinggalnya? Tentulah masalah ini jangan sampai menjadi keretakan hubungan yang sudah terjalin di antara kalian, Bapak dan ibu tiri kalian.
Ada baiknya juga jika Bapak menyampaikan kepada ibu tentang rencana ke depan yang akan dilakukan Bapak dan adik terkait dengan pernikahan yang akan dilakukan tahun ini dan rencana tinggal mereka.
Dengan demikian, Bapak bisa berharap ibu tiri Bapak akan tahu diri untuk bisa memilih di mana dia akan tinggal yang dianggap baik buat dirinya dan buat Bapak dan adik adik.
Harapan saya, persoalan yang Bapak rasakan bukanlah didasari atas pertimbangan materi, tetapi memang atas dasar kemaslahatan. Karena mungkin akan lebih baik jika memang ibu bisa tinggal dengan anak kandungnya yang secara kebetulan sudah berkeluarga. Karena itu ada baiknya jika Bapak juga berkenan membicarakan baik-baik dengan putri kandungnya tersebut secara kekeluargaan.
Saya kira momen pernikahan adik Bapak bisa menjadi entri point untuk memulai pembicaraan. Wassalamulaikum Wr Wb.***
Menyoal Ibu Tiri Tinggal
PertanyaanSAYA bersaudara tiga orang. Usia saya 32 dan sudah berkeluarga, dengan dua orang anak. Adik saya laki-laki usia 28, yang saat ini sudah bekerja dan siap menikah tahun ini. Sedangkan yang bungsu saat ini berusia 25.
Sepuluh tahun lalu, ibu saya meninggal dunia. Dua tahun kemudian ayah menikah lagi dengan seorang perempuan yang juga sudah memunyai seorang anak perempuan usia 23, yang saat ini tinggal dengan suaminya di kota yang sama. Dua tahun lalu, ayah saya menyusul ibu, dipanggil Yang Mahakuasa.
Saat ini kami, bertiga dengan adik dan istri serta anak saya tinggal bersama dengan ibu tiri saya dalam satu rumah. Sehingga praktis segala kebutuhan ibu tiri saya, kami yang harus menanggungnya. Padahal penghasilan saya tidaklah banyak. Dalam pikiran saya dan adik-adik, akan lebih baik jika ibu tiri mau tinggal dengan anaknya sendiri. Karena rumah yang kami tinggali sebenarnya juga sudah atas nama saya dan dua adik kandung saya. Sementara ibu tiri sudah mendapatkan penghasilan dari uang pensiun ayah saya. Terlebih, sebentar lagi adik saya juga akan menikah, sehingga praktis kami memerlukan tempat tinggal adik dan istrinya.
Bagaimana ya, cara menyampaikan agar ibu tiri saya tidak merasa terusir, tapi bisa tahu diri dengan situasi di rumah kami yang memang tidak besar?
Rony
Salatiga
Salatiga
Jawaban:
ASSALAMUALAIKUM Wr Wb. Bapak Rony yang saya hormati, saya kira apa yang Bapak sampaikan tidaklah merupakan masalah yang besar dan rumit. Seandainya pun merupakan masalah, saya kira tidak ada masalah yang tidak dapat dicarikan jalan penyelesaiannya.
Saya kira Bapak perlu memertimbangkan ulang dari sisi baik dan buruknya, maslahah dan madlaratnya. Kalau seandainya ibu tetap tinggal bersama, apakah akan mengganggu privasi atau lainnya? Atau jika ibu harus tidak tinggal bersama di rumah Bapak, akan tinggal di manakah selanjutnya? Kalau tinggal dengan anak kandungnya, apakah rumahnya memungkinkan untuk menjadi tempat tinggalnya? Tentulah masalah ini jangan sampai menjadi keretakan hubungan yang sudah terjalin di antara kalian, Bapak dan ibu tiri kalian.
Ada baiknya juga jika Bapak menyampaikan kepada ibu tentang rencana ke depan yang akan dilakukan Bapak dan adik terkait dengan pernikahan yang akan dilakukan tahun ini dan rencana tinggal mereka.
Dengan demikian, Bapak bisa berharap ibu tiri Bapak akan tahu diri untuk bisa memilih di mana dia akan tinggal yang dianggap baik buat dirinya dan buat Bapak dan adik adik.
Harapan saya, persoalan yang Bapak rasakan bukanlah didasari atas pertimbangan materi, tetapi memang atas dasar kemaslahatan. Karena mungkin akan lebih baik jika memang ibu bisa tinggal dengan anak kandungnya yang secara kebetulan sudah berkeluarga. Karena itu ada baiknya jika Bapak juga berkenan membicarakan baik-baik dengan putri kandungnya tersebut secara kekeluargaan.
Saya kira momen pernikahan adik Bapak bisa menjadi entri point untuk memulai pembicaraan. Wassalamulaikum Wr Wb.***
Label:
Keluarga,
Konsultasi





